fbpx

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menyebabkan perlambatan ekonomi dunia pada 2019 dari 3,2 persen menjadi 2,9 persen. Dikutip dari CNBC Indonesia, dua tahun terakhir dunia dipenuhi pemberitaan terkait ketegangan ekonomi antara Amerika Serikat dan China.

Ketegangan bermula ketika Presiden Trump mengumumkan kebijakan untuk memberlakukan tarif bea masuk atas produk China pada 2018 lalu. Hal ini merupakan kebijakan yang diberlakukan dalam rangka memangkas defisit perdagangan Amerika Serikat terhadap China yang memiliki kesenjangan hingga US$300 miliar sejak 2014.

Kebijakan ini tentu menggemparkan dan memancing reaksi negara lain, terutama China. Tak tinggal diam, pemerintah Tiongkok akhirnya membalas dengan memberlakukan kebijakan yang sama yakni menaikkan bea masuk impor pada 106 produk Amerika Serikat sebesar 15-25%.

Perang kebijakan atas perdagangan antara AS dan China inilah yang disebut sebagai perang dagang. Adapun dengan adanya pertikaian dingin antar dua negara ini menyisakan beragam pengaruh bagi negara-negara lain.

Misalnya untuk Kamboja yang diketahui memiliki hutang kepada China, dianggap lebih memihak pemerintah Tiongkok dibandingkan Amerika. Selain itu berdasarkan Economic Insight ICAEW terbaru bertajuk Laporan Asia Tenggara pertumbuhan ekonomi di wilayah Asia Tenggara melambat menjadi 4,6 persen, padahal pada kuartal akhir 2018 pertumbuhannya masih di angka 5,3 persen.

Lantas bagaimana dampak perang dagang ini untuk Indonesia? Secara umum hal ini akan berpengaruh pada meningkatnya resiko investasi, sebab aliran modal asing yang semakin tertekan. Terbukti dengan menurunnya investasi portofolio pada kuartal awal tahun 2019 ini yang hanya berkisar US$5,4 miliar. Padahal pada kuartal akhir tahun 2018 investasi yang masuk ke Indonesia mencapai US$10,5 miliar.

Dikutip dari Kompas.com, gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo tetap optimis Indonesia masih memiliki peluang untuk menarik investasi asing di dalam negeri. Ia memperkirakan dua tahun ke depan pertumbuhan ekonimi Amerika Serikat akan tertekan. Hal ini dibuktikan ketika beberapa waktu lalu bank sentral AS sempat secara agresif menaikkan suku bunga, dan diprediksi tidak akan menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat.

Sehingga selama imbal hasil menarik dan premi resiko terjaga, peluang daya tarik investasi portofolio ke Indonesia masih akan terbuka. Di sisi lain perang dagang ini juga membuka peluang relokasi pabrik dari Taiwan, China, Vietnam, Thailand atau negara lainnya ke Indonesia.

Beberapa perusahaan manufaktur asal China ingin memindahkan basis produksinya ke Indonesia demi menghindari tarif tinggi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat. Contohnya seperti beberapa industri tekstil dan alas kaki global yang sedang mempertimbangkan pemindahan pabrik dari China ke Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian saat menghadiri World Economic Forum Annual Meeting 2019 di Davos, Swiss awal tahun ini.

Menurutnya meskipun perang dagang Amerika Serikat dan China memengaruhi perlambatan ekonomi dunia, pada tahun 2019 ini akan ada investor China yang berniat menanamkan modal sebesar Rp10 triliun pada sektor tekstil dan mengarah pada pengembangan sektor midstream di Indonesia.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *