fbpx

Brexit atau British Exit merupakan singkatan yang merujuk pada keputusan Britania Raya untuk keluar dari Uni Eropa (UE), atau persatuan negara-negara di Eropa. Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 2016 menyusul hasil keputusan referendum dari 30 juta masyarakat empat negara, yakni Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara. Sekitar 52% masyarakat Britania Raya setuju untuk keluar dari persatuan negara-negara Eropa tersebut.

Uni Eropa adalah kemitraan ekonomi dan politik yang beranggotakan 28 negara di Eropa. Organisasi ini terbentuk setelah Perang Dunia II dengan tujuan untuk meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi. Harapannya negara-negara yang menjadi mitra dagang akan menghindari perang satu sama lain serta memudahkan kegiatan ekonomi dan perpindahan warga negara Eropa.

Uni Eropa kemudian berkembang menjadi “pasar tunggal” sehingga barang dan orang dapat berpindah secara bebas dari negara ke negara. Organisasi ini juga memiliki mata uang tunggal, yakni euro, yang digunakan oleh 19 negara anggota. Uni Eropa juga memiliki parlemen sendiri dengan beragam peraturan termasuk lingkungan, transportasi, dan hak konsumen.

Britania Raya, yang selanjutnya akan disebut sebagai Inggris diketahui pertama bergabung menjadi anggota Uni Eropa pada tahun 1976. Apabila Inggris keluar dari Uni Eropa, maka Inggris menjadi negara pertama yang keluar dari perserikatan dagang negara-negara Eropa ini.

Namun ternyata meskipun permohonan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa dikabulkan, tidak serta merta langsung dapat diimplementasikan. Hal ini merujuk pada keputusan ditangguhkannya Brexit selama beberapa tahun, hingga pada akhirnya masa penagguhan tersebut diperpanjang sampai tahun 2020

Di bawah masa pemerintahan Perdana Menteri Theresa May, keputusan Brexit ditangguhkan hingga Maret 2019. Hal ini disebabkan belum adanya kesepakatan antara Parlemen Uni Eropa dengan perjanjian yang ditawarkan oleh PM Theresa May. Tawaran dari perdana menteri ini sempat ditolak tiga kali sebelum akhirnya May mengundurkan diri, dan akhirnya diganti oleh Perdana Menteri Boris Johnson. Apabila Inggris benar-benar keluar dari Uni Eropa maka akan ada regulasi baru yang digunakan untuk mengendalikan distribusi barang dari negara-negara Eropa ke Inggris melalui perbatasan Irlandia Utara. 

Keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa bukan tanpa sebab. Ada tiga alasan mendasar mengapa Inggris ingin keluar dari Uni Eropa. Pertama, Inggris merasa jangkauan kekuasaan Uni Eropa terlampau besar hingga dapat mengancam kedaulatan Inggris. Kedua, Inggris merasa terganggu dengan keputusan yang baru-baru ini ditetapkan di Brussels, markas Uni Eropa di Belgia. Mereka yang pro terhadap Brexit meyakini bahwa aturan tersebut akan mencegah perkembangan bisnis berjalan secara efisien. Ketiga, yang tak kalah penting adalah masalah migran atau pendatang yang memicu masalah lain seperti pengangguran di Inggris. Sehingga keempat negara tersebut sepakat melakukan jajak pendapat dengan hasil mayoritas menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa.

Imbas Brexit pada Perdagangan Mata Uang

Berbeda dengan negara Eropa lain, Inggris menggunakan poundsterling sebagai mata uang. Ketika permohonan Brexit disetujui oleh Parlemen Uni Eropa, nilai poundsterling sempat melambung tinggi. Namun kemudian jatuh hingga menyentuh angka US$1,2817 terhadap dolar Amerika Serikat per Oktober lalu. 

Dikutip dari CNBC Indonesia, analis Commerzbank Thu Lan Nguyen mengatakan bahwa secara teknikal mata uang poundsertling bisa turun hingga US$ 1,275 terhadap dolar AS apabila penundaan Brexit dilakukan secara terus menerus. Hal ini juga dapat merusak nilai mata uang poundsterling dalam jangka waktu yang lama. Ia juga menambahkan bahwa potensi penurunan ini cukup terbuka, sebab level jenuh jualnya (oversold) masih jauh berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI).

Amerika Serikat merupakan mitra utama Inggris dalam perdagangan. Perubahan ini jelas akan memengaruhi Amerika, misalnya saja jika Britania Raya mengalami resesi maka akan memengaruhi output Amerika Serikat. Akibatnya euro dan pounsterling akan jatuh di bawah dolar. Hal ini akan menghambat kegiatan ekspor dari Amerika Serikat.

PENULIS: LUKY FITRIANI

Categories: Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *