fbpx

Masih hangat dalam ingatan, beberapa bulan yang lalu ketika secara mengejutkan nama Ma’ruf Amin diputuskan oleh Presiden Joko Widodo sebagai calon wakil presiden mendampingi sang petahana pada pemilu 2019. Hal ini tentu sangat mengejutkan publik, sebab nama mantan ketua MUI ini hampir tak disebut di bursa calon wakil presiden. Justru yang santer terdengar akan digadang-gadang menjadi cawapres adalah mantan Ketua MK yakni Mahfud MD. Bahkan gaungnya sudah terdengar lama, lantaran Mahfud MD sempat dihubungi pihak istana. Analogi terpilihnya Ma’ruf Amin sebagai kandidiat calon wakil presiden menggambarkan sebuah fenomena yang terjadi tanpa prediksi, antisipasi, dan memberikan efek yang mengejutkan. Peristiwa langka ini biasanya dikenal sebagai black swan.

Berbicara mengenai angsa, tentu identik dengan unggas berbulu putih, namun mengapa bisa disebut angsa hitam atau black swan? Black swan dapat dimengerti sebagai sebuah kejadian yang tidak terduga dan luar biasa. Sama seperti angsa yang biasanya berwarna putih kemudian tiba-tiba muncul angsa berwarna hitam, tentu akan mengejutkan dan menarik perhatian.

Istilah black swan dipopulerkan oleh Nassim Nicholas Taleb yang merupakan seorang profesor di bidang finasial. Ia bukan hanya seorang akademisi namun juga mantan trader di Wall Street. Taleb mengenalkan istilah black swan pada tahun 2007 dalam buku yang ia tulis dengan judul yang sama yakni The Black Swan.

Buku ini dinobatkan oleh The Sunday Times sebagai satu dari 12 buku paling berpengaruh setelah perang dunia kedua. Salah satu kutipan Taleb yang populer yakni, “isn’t it strange to see an event happening precisely because it was not supposed to happen?” Bukankah aneh melihat sebuah kejadian yang terjadi justru karena seharusnya tidak terjadi? Begitulah kira-kira penggambaran fenomena black swan yang memiliki implikasi serius pada pasar keuangan.

Karakteristik black swan

Taleb menjelaskan bahwa sebuah kejadian bisa dikategorikan black swan apabila:

  1. Sangat jarang terjadi sehingga muncul konsekuensi yang besar. Sebab terjadi di luar perkiraan atau tidak diprediksi akan terjadi sama sekali. Perisitiwa ini biasanya hanya bisa dijelaskan ketika sudah terjadi.
  2. Black swan mampu menyebabkan bencana atau krisis ekonomi, dan karena tidak bisa diprediksi maka hanya bisa diantisipasi dengan membangun sistem yang kuat.
  3. Ketergantungan pada alat pemrediksi dapat menyebabkan kegagalan dan bahkan justru dapat meningkatkan kerentanan terjadinya black swan.

Pada poin terakhir, penggunaan alat standar probabilitas dan prediksi seperti normal distribution tidak berlaku. Sebab alat tersebut bergantung pada populasi besar dan ukuran sampel di masa lalu. Penggunaan statistik berdasarkan pengamatan histori tidak membantu memprediksi black swan, justru malah membuat lebih rentan.  

Normal distribution adalah jenis distribusi yang paling sering digunakan untuk menganalisa pasar saham teknis dan analisa statistik. Distribusi ini memiliki dua parameter, yakni mean dan standar deviasi.

Contoh kejadian black swan yang pernah terjadi

Pada sektor pasar keuangan, ada beberpa kejadian di masa lalu yang bisa menjadi contoh terjadinya black swan. Misalnya ketika Indonesia mengalami krisis moneter pada 1998, dan 10 tahun kemudian tepatnya pada 2008 krisis yang sama kembali terulang.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2010 Yunani juga mengumumkan kegagalan membayar hutang pemerintahannya. Bahkan pada 2015, Yunani menjadi negara maju pertama yang tidak mampu membayar cicilan hutang kepada International Monetary Fund (IMF). Pasar finansial menjadi kaget karena kejadian ini, sehingga berdampak pada anjloknya saham Asia dan Eropa. Akibatnya investor dan trader global banyak yang memburu emas dan obligasi Amerika Serikat sebagai safe haven, atau instrumen investasi yang dianggap aman.

Pada 2016 terjadi peristiwa Brexit atau British exits, yakni keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Hal ini seketika membuat mata uang Poundsterling atas USD anjlok ke level terendah sejak 1985.

Amerika Serikat sebagai negara dengan ekonomi terkuat menjadi acuan berbagai negara dalam menentukan pasar keuangan. Terlebih mata uang Amerika Serikat yakni dolar AS dapat diterima di hampir seluruh negara, atau international currency.

Salah satu kebijakan yang baru-baru ini menarik perhatian dunia adalah The Fed untuk pertama kalinya menurunkan suku bungan acuannya sebesar 25 basis poin (bps) dalam satu dekade terakhir.

Hal ini menjadi sejarah penting sebab untuk pertama kalinya The Fed memangkas suku bunga setelah sepuluh tahun berlalu sejak resesi yang menghantam Amerika Serikat pada 2008. Penurunan ini dipicu akibat perang dagang, aktivitas manufaktur yang menurun, perlambatan ekonomi dan inflasi di AS.

Dalam pasar ekonomi sering kali terjadi hal-hal yang di luar perkiraan, bersifat tidak dapat diantisipasi atau tak terduga, dan menimbulkan kegemparan. Misalnya saja terjadinya krisis moneter di suatu negara secara mendadak. Peristiwa seperti ini yang kerap kali disebut sebagai black swan, kejadian yang terjadi di luar dugaan dan menimbulkan kekacauan di sektor perdagangan keuangan.

Lantas bagaimana pasar Forex memanfaatkan peluang ini?

Jika diamati, beberapa contoh kejadian di atas akan menyebabkan panic selling yang dapat dimanfaatkan oleh trader untuk menjual mata uang negara yang terkena dampak krisis agar memperoleh keuntungan.

Misalnya krisis yang menimpa Yunani dan referendum Brexit dapat dimanfaatkan oleh trader untuk menjual Euro dan Poundsterling secara besar-besaran agar mendapatkan profit yang besar. Sebab biasanya ketika terjadi krisis, negara pemilik mata uang akan menarik dana kembali ke negaranya, sehingga mata uang tersebut justru menguat dan trader bisa mengambil keuntungan dari penjualan.

Penulis: Luky Fitriani

Sumber:

https://www.investopedia.com/terms/b/blackswan.asp

Categories: Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *