fbpx

Umat Muslim di seluruh dunia sedang menjalani bulan suci Ramadan. Pada bulan ini, seluruh umat yang mampu akan diwajibkan untuk berpuasa. Berpuasa dalam Islam berarti tidak makan dan minum serta menahan hawa nafsu lainnya dari fajar hingga matahari terbenam. Puasa ini dilakukan setiap hari selama sebulan penuh hingga puncaknya berakhir di hari Idulfitri.

Puasa pun memiliki segudang makna, hidayah, dan manfaat. Maknanya sendiri adalah berusaha untuk menahan hawa nafsu. Dalam kehidupan sehari-hari, sering sekali kita makan secara berlebihan, minum secara berlebihan, tidak dapat menahan emosi, dan bahkan saling mendzalimi sesama manusia.

Pada puasa ini, hal tersebut harus kita coba untuk tahan. Bukan saja tidak makan dan minum, tapi juga menahan diri dari emosi, menahan diri dari menggunjing, dan hal lainnya yang memang dianggap akan mengurangi pahala berpuasa.

Dengan berpuasa pun kita turut merasakan saudara-saudari kita di luar sana yang mungkin tidak bisa makan dan minum semudah kita. Di luar sana, banyak sekali orang yang tanpa harus berpuasa pun terpaksa menahan lapar dan haus karena hidup dalam lingkungan yang kurang beruntung. Untuk itulah, dengan merasakan lapar dan haus, setidaknya kita tahu penderitaan mereka, kita mendapat hidayah dan mau bersedekah pada mereka yang membutuhkan jika kita punya rezeki lebih.

Segudang manfaat pun juga akan kita dapatkan dengan berpuasa. Berbagai penelitian dari segi kesehatan membuktikan bahwa berpuasa memiliki banyak manfaat bagi tubuh kita. Jika biasanya sehari-hari kita  makan dan minum tanpa pernah berhenti, maka pada bulan puasa ini tubuh kita punya waktu seharian untuk beristirahat dari kegiatan pencernaan. Hal ini pun sangat bermanfaat bagi tubuh kita, terutama organ pencernaan, dan meningkatkan metabolisme tubuh.

Ada sebuah kisah inspiratif yang mungkin layak kita renungkan di bulan puasa tahun ini. Seperti yang kita tahu, puasa bukanlah praktik ajaran Islam saja. Berbagai agama seperti Mormon, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, bahkan pagan kuno juga memiliki ritual puasanya masing-masing yang beragam bentuknya.

Salah satunya adalah Mormon. Agama yang lahir di New York pada 1820-an dan kini bermarkas di Utah, Amerika Serikat ini memiliki ritual puasa setiap bulan.

Pada hari minggu pertama tiap bulan, penganut agama Mormon akan berpuasa. Uang yang berhasil dihemat dari tidak makan selama satu hari tersebut akan disumbangkan pada orang yang membutuhkan melalui gereja. Dana yang terkumpul pun bisa cukup banyak tiap bulannya.

Dulu sekali, ada seorang penganut agama Mormon dari Amerika Serikat bertemu dengan seorang Muslim dari Indonesia. Mereka adalah teman dekat dan sering berdiskusi secara terbuka mengenai ajaran agama masing-masing. Sang penganut Mormon menyatakan kekagumannya pada teman muslimnya:

“Kalian hebat, bisa puasa selama satu bulan penuh. Bahkan kadang-kadang kalian juga puasa setiap hari Senin dan Kamis. Pasti uang yang bisa kalian kumpulkan untuk bersedekah bisa banyak sekali. Sementara kami Mormon hanya mengumpulkan sedekah dari berpuasa sehari dalam sebulan.”

Sang muslim pun tertunduk malu. Sebagai penganut agama Islam dari negeri Indonesia, ia paham betul bahwa yang terjadi tidak seperti itu. Justru di bulan puasa, ia malah lebih banyak melakukan konsumsi. Tiap berbuka puasa, ia akan makan di restoran mahal. Ia juga mengadakan bukber besar-besaran dengan teman-temannya, tentu dengan makanan dan minuman yang mahal-mahal. Bahkan bisa jadi, porsi makan dan minumnya serta pengeluarannya selama puasa lebih banyak daripada saat tidak puasa.

Belum lagi ketika sudah dekat lebaran, bawaannya pasti ingin segera beli baju baru, beli barang baru, beli bahan makanan banyak-banyak untuk masak besar-besaran di hari Idulfitri. Tidak heran, di Indonesia sendiri, tiap ramadan dan idulfitri pasti pertokoan ramai, pasar ramai, bahkan toko online ramai, saling menawarkan diskon yang menggiurkan dan sayang untuk tidak dibeli. Bahan pokok di pasaran pun meroket tidak terkendali dan membuat pemerintah selalu pusing setiap tahun. Akhirnya uang pun ludes, padahal sudah ada THR dan gaji ketigabelas.

Kenapa bisa begitu? Konsumsi bukan sesuatu yang salah. Tidak ada salahnya bersenang-senang dengan menggunakan uang halal yang memang kita dapatkan dengan kerja keras. Tapi apakah konsumerisme ini akan menjadi budaya kita setiap tahunnya?

Mungkin ada baiknya kita introspeksi dari sekarang. Menakar ulang apa yang memang menjadi inti dari bulan suci Ramadan. Menahan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, berlomba-lomba dalam kebaikan, termasuk dan terutama bersedekah. Apalagi di bulan Ramadan, kebaikan kita menjadi berlipat ganda pahalanya.

Berbelanja dan bersenang-senang tidak ada salahnya, tapi jangan sampai berlebihan, apalagi sampai jadi budaya. Tentu sangat bertolak belakang jika di bulan Ramadan, konsumsi kita malah lebih tinggi dan nirfaedah ketimbang bulan-bulan biasa.

Alangkah baiknya justru ketika di bulan Ramadan, kita bisa menyisihkan sebagian harta kita dengan berhemat dari berkurangnya porsi makan dan jajan kita sehari-hari. Dari tersisihnya harta tersebut, kita bisa menabung, berinvestasi, copy trading di Portofolio, dan tentu saja, bersedekah pada yang membutuhkan.

Categories: Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *