fbpx

Hari Raya Nyepi baru saja dirayakan oleh Umat Hindu pada tanggal 7 Maret 2019. Pada dasarnya hari raya ini adalah perayaan tahun baru kalender Saka, kalender yang jadi acuan Umat Hindu, seperti tahun Masehi bagi Umat Kristiani ataupun kalender Hijriah bagi Umat Muslim.

Seperti yang kita tahu, Umat Hindu merayakan hari besar ini dengan serangkaian ritual justru beberapa hari sebelum hari tersebut datang. Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Umat Hindu merayakan upacara Melasti. Kemudian pada tanggal 1 Saka atau tepat di Hari Nyepi, barulah puncak perayaannya digelar.

Justru pada puncaknya, Umat Hindu tidak melakukan apapun, sengaja berdiam di rumah masing-masing, tidak melakukan kesibukan atau aktivitas seperti biasanya. Inilah yang disebut “Catur Brata”, penyepian yang terdiri dari amati geni (tidak berapi atau tidak menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Sebagaimana namanya, saat “nyepi”, Umat Hindu menyucikan diri dengan berada pada situasi yang sepi. Berkontemplasi dengan apa yang telah terjadi selama setahun yang lalu dan bersiap untuk menyambut esok yang lebih baik. Dengan satu hari yang sepi ini, umat diharapkan memiliki ketenangan dan kesiapan batin di tahun yang baru.

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada “pinanggal ping kalih” (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari ke dua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih.

Filosofi yang indah ini pun bisa kita petik hikmahnya, bahkan sekalipun kita tidak beragama Hindu dan tidak merayakan Nyepi. Pada dasarnya dalam hidup, tidak ada ruginya berhenti sejenak, menenangkan batin dan mengasingkan diri sebentar setelah setahun penuh berjibaku dalam hiruk-pikuk dunia. Dengan melakukan tersebut, kita bisa berkontemplasi dengan apa yang telah kita alami dan perbuat selama setahun, dan menentukan langkah yang lebih segar untuk menyambut hari esok.

Lantas, adakah filosofi ini diterapkan dalam dunia trading forex, saham, maupun komoditas berjangka lainnya? Tentu saja ada.

Semua trader maupun investor, bahkan yang sekaliber Warren Buffet dan George Soros, punya filosofi dan alirannya sendiri dalam melakukan trading. Tapi, ada satu hal yang nampaknya selalu sama: tidak setiap hari kita harus terus melakukan trading. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dari pasar modal yang ramai dan penuh fenomena teknikal dan fundamental ekonomi.

George Soros misalnya, memiliki kebiasaan untuk mencatat setiap aktivitas trading yang ia lakukan. Aset apa yang akan ia awasi harganya, aset mana yang akan ia beli, aset mana yang akan ia jual serta di harga berapa. Semua dicatat karena sebagai orang keturunan Eropa, ia punya kebiasaan itu.

Dari waktu ke waktu, Soros bisa memilih untuk berhenti trading dulu. Ia melihat bahwa pasar sedang tidak ideal untuk dimasuki sama sekali. Tidak ideal untuk ia membeli atau menjual apapun. Ia melihat kembali catatannya, mengevaluasi strateginya, menemukan kesalahan yang telah ia perbuat, dan berkomitmen untuk mencari solusi atas kesalahannya. Otomatis, ia pun “menyepi” dari pasar.

Begitupun dengan Warren Buffet. Buffet meskipun memiliki filosofi yang berbeda dengan Soros, juga rajin mengevaluasi investasinya. Ia melihat lagi portofolio asetnya dan menilainya dengan teliti. Menurut Buffet, membeli saham berarti benar-benar membeli perusahaannya, maka itu ia mengevaluasi betul kinerja fundamental dari perusahaannya, dari mulai laporan keuangannya serta SDM yang dimiliki perusahaan tersebut. Filosofi value investing seperti ini sudah barang tentu adalah warisan dari mahagurunya Buffet, Benjamin Graham.

Semua pemain trader, baik yang memakai strategi teknikal maupun fundamental, baik yang bermain daily maupun scalper, sama-sama setuju bahwa tidak setiap saat trading bisa dilakukan. Ada saat di mana kondisi pasar sedang tidak ideal, ada saat di mana strategi kembali harus dievaluasi, ada saat di mana bahkan seorang trader harus istirahat dari trading agar tidak jenuh. Apalagi ketika telah mengalami kerugian, sangat penting bagi seorang trader untuk tidak emosional dan justru mengambil langkah ke belakang sejenak untuk melihat apa kesalahannya.

Beberapa trader bisa memanfaatkan waktu selama “menyepi” dengan “bermain” akun demo. Menguji coba strategi baru dengan uang demo yang tidak nyata agar tidak mengalami kerugian. Indikator baru bisa dicoba, indikator lama bisa ditinggalkan, bahkan tanpa memakai indikator sama sekali alias “naked trading” juga bisa dilakukan.

Intinya, seorang pemain trader profesional justru tahu kapan harus berhenti dan “menyepi” sejenak. Berkontemplasi dengan semua aktivitas trading yang telah dilakukan, menyeimbangkan kondisi psikologis mereka, mempelajari kesalahan apa yang telah dilakukan. Dan menurut Soros, yang terpenting adalah mau mengakui kesalahan itu, dan berkomitmen untuk bisa memperbaikinya.

Jadi, bagaimana dengan anda sendiri? Pernahkah anda menyepi sejenak dari dunia trading, berkontemplasi, agar kemudian dapat masuk kembali ke dunia trading dengan keadaan yang lebih segar?


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *