fbpx

Zaman dulu, kalau anda ingin berbisnis hotel, tentu anda harus berinvestasi besar pada properti. Anda harus menyiapkan lokasi yang strategis, membeli tanah yang mahal, dan membangun bangunan hotel yang tentu menghabiskan banyak waktu dan biaya.

Setelah itu, anda pun harus berjuang mengoperasikan hotel tersebut. Merekrut karyawan, membuat sistem, memberlakukan SOP, dan menjalankan operasi melayani tamu setiap hari. Belum lagi kegiatan promosi dan pemasaran yang harus anda lakukan untuk mendatangkan tamu. Entah berapa puluh tahun sampai modal anda kembali dan mulai mencetak keuntungan bersih.

Begitupun jika anda ingin membuat perusahaan transportasi taksi misalnya. Anda harus membeli armada taksi yang besar sekalian disertai pengemudinya. Lagi-lagi butuh waktu tahunan untuk bisa mencetak untung, mengembalikan modal, dan mendapat imbal hasil yang diinginkan.

Begitu besar dan mahal untuk membuka bisnis yang besar, karena memang industri seperti di atas harus dilakukan dalam skala yang “besar sekalian” agar memenuhi prinsip “economic scale” agar lebih hemat dan efisien.

Tapi, ada sesuatu yang berbeda terjadi hari ini.

Uber, sebuah perusahaan berbasis aplikasi transportasi on demand, justru menjadi perusahaan transportasi pertama yang tidak memiliki armada transportasi sama sekali. Kok bisa?

Ya, Uber memang tidak bekerja sebagaimana perusahaan taksi biasa di kota-kota besar Amerika. Uber menciptakan jaringan antara orang yang mau menyediakan jasa transportasi secara freelance dan mereka yang membutuhkan jasa transportasi secara on demand.

Skenarionya cukup mudah, orang-orang yang memiliki kendaraan mobil dapat mendaftar ke Uber sebagai “mitra” independen. Nantinya mereka memegang aplikasi driver di smartphone dan dapat mengaktifkannya jika ingin menangkap pesanan.

Di sisi lain, orang yang membutuhkan jasa transportasi dapat mengunduh aplikasi Uber di smartphone mereka pula, sehingga mereka bisa memanggil pengemudi Uber kapan saja melalui aplikasi tersebut.

Pengguna jasa dan penyedia jasa transportasi dipertemukan melalui aplikasi Uber di smartphone.

Di lapangan, skenarionya pun sederhana. Orang yang membutuhkan jasa transportasi dapat dengan mudah memesan Uber melalui aplikasinya, lengkap dengan titik penjemputan dan titik destinasi. Nanti aplikasi Uber dengan otomatis mencarikan mitra driver Uber terdekat yang dapat melayani pemesanan tersebut. Driver yang terpilih pun langsung merespon dan menjemput pelanggan serta mengantarkannya ke tujuan.

Setelah pesanan berhasil dilakukan, pengguna jasa pun membayar, driver menerima bayaran tersebut, dan membagi sekian persen keuntungannya untuk Uber. Maka sesederhana itulah konsep “sharing economy” yang diterapkan oleh Uber.

Dalam jaringan teknologi ini, Uber dengan mudah mempertemukan penyedia dan pengguna jasa transportasi, tanpa Uber perlu memiliki armada kendaraan sama sekali.

Model transportasi ini di Indonesia kita kenal dengan Gojek dan Grab, setelah sebelumnya Uber sendiri pernah ada di sini. Uniknya, layanan berbagi kendaraan atau ride sharing di Indonesia maupun di negara-negara Asia Tenggara memungkinkan memakai kendaraan motor roda dua. Berbeda dengan di Amerika Serikat atau negara barat yang umumnya memakai mobil atau bahkan sewa sepeda sekalian, bukan motor.

Selain ride sharing, ada pula model sharing economy dalam bentuk penginapan, itulah yang dilakukan Airbnb. Tanpa memiliki aset properti atau penginapan secara langsung, Airbnb menyediakan platform jaringan bagi mereka yang memiliki aset berupa bangunan dan kamar untuk disewakan. Nantinya orang yang ingin menyewa kamar dapat dengan mudah menemukan para penyewa kamar lengkap dengan lokasi dan harga sewa kamar tersebut.

Adanya bisnis startup “pihak ketiga” yang mempertemukan antara penyedia dan pemakai jasa ini pun diterima luas oleh pasar. Model konsumsi on demand terbukti lebih efektif dan efisien, penyedia jasa bisa menyediakan jasanya secara fleksibel dan pemakai jasa bisa memesan jasa secara bebas dan memuaskan.

Bagaimana dengan industri Forex?

Selama ini, Forex hanya mengenal trader dan broker. Trader adalah pelaku perdagangan yang melakukan jual-beli valas, komoditas, saham, atau produk derivasi lainnya, sementara broker adalah penyedia platform bagi trader untuk bisa menyetor dana dan melakukan jual-beli aset.

Untung-rugi trader bergantung dari aktivitas perdagangannya sendiri, broker hanya menyediakan wadah untuk melakukan trading dan tentu saja mendapat untung dari tiap perdagangan trader, baik jika untung maupun rugi.

Portofolio Indonesia pun menawarkan sebuah konsep baru dalam melakukan trading.

Di sini, Portofolio melihat bahwa ada banyak trader pemula yang bersemangat untuk memasuki pasar forex dan komoditas berjangka untuk bisa meraup untung. Sayangnya, karena kurang ilmu dan pengalaman, banyak dari trader pemula yang mengalami kerugian. Karena memang faktanya, dari semua orang yang pernah melakukan trading forex, hanya kurang dari 10 persen yang bertahan dan bisa meraih keuntungan. Sisanya seringkali merugi dan menyerah.

Di sinilah Portofolio melihat peluang. Kami mencari dan menyeleksi para trader forex yang profesional dan berpengalaman. Mereka diseleksi secara ketat agar benar-benar berkualifikasi dan tidak hanya paham teori, tapi juga sudah kenyang makan asam garam dunia trading.

Kemudian, Portofolio mengundang para trader profesional ini agar menjadi mitra sebagai “Master Trader” di platform Portofolio. Nantinya, mitra ini ditampilkan secara transparan di situs Portofolio dari segi riwayat tradingnya, pertumbuhan profit yang berhasil dicetak, dan bahkan kerugian yang pernah dialami, semuanya dikemas dengan desain media interaktif.

Lalu, Portofolio mengundang masyarakat luas, baik yang ingin belajar trading maupun sekadar ingin menumbuhkan dananya, untuk melakukan copy trading terhadap Master Trader ini.

Artinya, Copy Trader ini tetap memakai broker terpisah dan menyetor sendiri dana trading mereka, namun nanti aktivitas trading mereka akan meniru persis, disalin, alias COPY-PASTE, dari Master Trader yang tersedia di Portofolio.

Ketika Master Trader membeli mata uang tertentu di harga sekian, maka akun milik Copy Trader akan melakukan persis sama.

Ketika Master Trader menjual mata uang tertentu di harga sekian, akun milik copy trader akan melakukan persis sama.

Setiap kemenangan profit dari Master Trader akan dialami secara persis oleh Copy Trader.

Jika Master Trader mencetak profit, maka Copy Trader akan mencetak profit yang sama. Dan jika Copy Trader berhasil profit, maka Master Trader mendapat sejumlah komisi dari Copy Trader atas jasanya tersebut.

Relasi menguntungkan antara Copy Trader dan Master Trader

Relasi saling menguntungkan inilah yang melandasi konsep skema “sharing economy” antara Copy Trader dan Master Trader. Keduanya sama-sama melakukan kontribusi, sama-sama meraup untung, dan sama-sama punya risiko yang ditanggung. Di atas itu semua, Portofolio bertindak sebagai wadah pihak ketiga untuk memfasilitasi mereka yang bisa menyediakan jasa trading dan mereka yang ingin trading tapi tidak mahir.

Portofolio bukanlah broker, bahkan Portofolio tidak punya trader forex, sebagaimana Uber tidak memiliki armada dan Airbnb tidak memiliki properti. Portofolio menyediakan wadah bagi trader profesional dan pelaku trader untuk bertemu dan menjalin relasi copy-trading yang saling menguntungkan.

Kini masyarakat luas bisa memanfaatkan fitur Copy Trading di Portofolio secara fleksibel. Trader pemula dapat belajar trading dengan melakukan copy trading dan memahami cara Master Trader melakukan trading secara langsung. Sementara mereka yang hanya sekadar ingin mendapat profit dari trading dapat sekadar memanfaatkan copy trading untuk bisa meraup untung tanpa harus paham sama sekali tentang trading.

Jika anda tertarik lebih lanjut untuk melakukan copy trading di Portofolio, segera daftar menjadi member di situs Portofolio.co.id.

Hubungi nomor marketing kami di: 08113433800

Email: support@portofolio.co.id


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *