fbpx

Batu bara menjadi salah satu investasi saham yang ‘cukup seksi’. Nggak heran banyak perusahaan yang mengincarnya, baik perusahaan lokal hingga luar negeri. Dari data yang dilansir Kontan, Per November 2017,Per Desember 2017, komposisinya berubah. Pemodal asing mendominasi BUMI, yakni 41,85 miliar atau 64,02%. Adapun pemodal lokal memiliki 23,52 miliar (35,98%).

Salah satu korporasi asing yang menguasai BUMI adalah Chengdong Investment Corp. Per 11 Januari 2018, perusahaan asal Tiongkok ini menggenggam 22,71% saham BUMI.

Meski demikian, kendali atas BUMI tidak sepenuhnya berubah. Keluarga Bakrie masih memiliki kendali atas BUMI. Selain BUMI, beberapa emiten batubara juga dikuasai asing. Salah satunya Indo Tambangraya Megah (ITMG). Per 30 November 2017, Banpu Minerals, private company yang berbasis di Singapura, menguasai 736,07 juta saham, atau sekitar 65,14%.

Mengenal Adaro Energy

Adaro Energy merupakan perusahaan energi yang terintegrasi secara vertikal dengan bisnis di sektor batubara, energi, utilitas, serta infrastruktur pendukung.

Cikal bakal lahirnya emiten ini bermula kala terjadi guncangan minyak dunia pada tahun 1970. Hal tersebut membuat Pemerintah Indonesia perlu merevisi kebijakan energinya dengan mengikut sertakan batubara sebagai bahan bakar untuk penggunaan dalam negeri selain minyak dan gas. Dari kebijakan inilah kemudian membuka peluang bagi perusahaan batubara untuk menapaki jejak suksesnya.

Emiten dengan kode Adro ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 16 Juli 2008 dengan harga penawaran Rp1.100 per saham.

Awalnya di tahun 1982 Adaro Indonesia di bawah BUMN Spanyol Enadimsa ttd kerjasama ekspolarasi dari 1983-1989. Kemudian di tahun 1989, Konsorsium Australia-Indonesia akusisi 80% saham Adaro Indonesia dari Enadimsa. Di tahun 1992, Adaro Indonesia beroperasi secara komersil dengan produksi 1 juta ton. Namun di tahun 1997, PT Asminco Bara Utama (Pemegang Saham Adaro Indonesia 40%) meminjam ke Deutsche Bank AG sebesar US$100 Juta.

CNBC Indonesia

Deutsche Bank mengajukan eksekusi jaminan Asminco ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena gagal bayar di tahun 2001. Di tahun 2002, PN Jakarta Selatan menetapkan pelaksanaan ekseskusi yang berujung pada Deutsche Bank menjual 40% saham Adaro Indonesia ke PT Dianlia Setyamukti milik Edwin Soeryadjaya senilai US$46 Juta. Tapi di tahun 2005, Beckkell Pte. Cco, pemegang sagam Asminco, menggugat eksekusi Deutsche Bank dan transaksi Dianlia.

Namun pengadilan Singapura menolak gugatan Beckett. Dengan begitu 40% saham Adaro Indonesia tetap dimiliki Dianlia. Sementara PT Alam Tri Abadi, milik Benny Subianto dan Garibaldi Thohir, mengakusisi 40,82% saham Adaro Indonesia milik New Hope Corporation senilain US$378 juta.

Di tahun 2008, para pemegang saham menjadikan PT Padang Karunia yang sekarang menjadi PT Adaro Energy Tbk. menjadi entitas induk Adaro Indonesia. Kini, Adaro Energy IPO dinilai dengan harga penawaran Rp 1.100 per saham.

Baca Juga: Harga CPO Semakin Melemah, Beginilah Peran Pemerintah

Pemegang Saham

Kini ada 10 pemegang saham Adaro Energy Tbk. Ada yang secara personal maupun bentuk perusahaan. Arini Subianto, kini mengantongi 0,25% saham, lalu Christian Ariano Rachmat 0,06%, Julius Aslam sebesar 0,05%, David Tendian 0,03%, Chia Ah Hoo sebsar 0,03%, dan 43,66% pemegang saham lainnya.

Kemudian ada T.P Rachmad sebesar 2,54%, Edwin Soeryadjaya 3,29%, Garibaldi Thohir 6,18%, dan yang paling terbesar dimiliki Adaro Strategic Investments sebesar 43,91%.

Jumlah dividen di tahun 2015 sebsar US$75,48 juta per saham. Di tahun 2016 meningkat menjadi US$101,07 juta per saham. Dan di tahun 2017 naik hingga US$40 juta dengan angka US$ 150,01 juta per saham.

Hal tersebut dibersamai pula dengan jumlah produksi batu bara di tahun 2015 sebesar 51,5 juta ton, di tahun 2016 sebesar 52,6 juta ton, dan tahun 2018 sebesar 51,8 juta ton.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *