fbpx

Harga CPO semakin sedang mengalami titik jenuh sepertinya. Kali ini Industri minyak sawit di Indonesia (crude palm oil/CPO) di RI tengah tertekan hebat. Hal ini disebabkan oleh akumulasi dari lesunya permintaan ekspor, stok menumpuk, harga turun. Dampaknya risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) mengintai di depan mata.

Sebagai informasi, awal tahun 2018, pasar minyak sawit global cukup menjanjikan. Hal ini tercermin dari harga minyak sawit meningkat pada dua pekan pertama yang bertengger di kisaran US$ 675 – US$ 697.5 per metrik ton. Namun pada pekan ketiga dan keempat harga cenderung terus menurun hingga menyentuh US$ 652.5 per metrik ton.

Namun di Bulan Maret, turunnya harga minyak sawit global dipicu lemahnya permintaan di pasar global terutama dari Tiongkok dan negara-negara Uni Eropa (UE).

Sementara, dilansir dari laman CNBC Indonesia, harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kontrak Januari 2019 di Bursa Derivatif Malaysia anjlok 1,44% ke MYR 1.978/ton pada perdagangan hari ini Rabu (14/11/2018), hingga pukul 11.30 WIB, atau akhir perdagangan sesi 1.

Dengan pergerakan itu, harga komoditas unggulan agrikultur Malaysia dan Indonesia ini sudah melemah sepanjang 7 hari beruntun, sekaligus jatuh ke bawah level psikologis MYR 2.000/ton untuk pertama kalinya sejak awal September 2015.

Pelemahan harga CPO hari ini masih didorong oleh peningkatan stok minyak kelapa sawit di Malaysia, sekaligus jatuhnya harga minyak mentah dunia.

Pelemahan Harga CPO

Sejak awal perdagangan, pergerakan harga CPO memang sudah cenderung loyo. Sejumlah sentimen negatif masih menghantui, utamanya datang dari lesunya permintaan global, amblasnya harga minyak mentah dunia, serta koreksi harga minyak kedelai.

Baca Juga: Dana Minim Bisa Trading Karena Leverage

Akan tetapi, pelemahan harga CPO semakin menjadi-jadi pasca pemerintah Indonesia menetapkan pungutan ekspor CPO menjadi US$ 0/ton, jelang penutupan perdagangan kemarin. Pelemahan harga semakin parah yakni mencapai 2% direntang 1 jam sebelum penutupan harga.

Image result for cpo

iNews.id

Sebenarnya ada faktor dasar yang sangat tidak mendukung. Ekspor produk minyak kelapa sawit Malaysia dilaporkan turun 2,6% secara bulanan (month-to-month/MtM) ke 1,04 juta ton pada periode 1-25 November, berdasarkan survei kargo yang dilakukan Intertek Testing Services. Namun justru stok minyak kedelai di India (importir CPO terbesar di dunia) sedang tinggi-tingginya sehingga mengurangi permintaan CPO.

Tekanan bagi harga CPO juga datang dari amblasnya harga minyak mentah dunia. Pada penutupan perdagangan hari Jumat (23/11/2018), harga minyak light sweet yang menjadi acuan di Amerika Serikat (AS) ambrol nyaris 8%, sedangkan harga brent yang menjadi acuan di Eropa amblas 6% lebih.

Penurunan harga minyak mentah memang cenderung menekan harga CPO yang merupakan bahan baku biofuel. Biofuel merupakan salah satu substitusi utama bagi bahan bakar minyak (BBM). Saat harga minyak dunia turun, produksi biofuel menjadi kurang ekonomis. Hal ini lantas menjadi faktor menurunnya permintaan CPO.

Presiden Angkat Bicara

Melihat kondisi CPO yang semakin melemah, Presiden Republik Indonesia, Jokowi akhirnya angkat bicara. Masih dilansir dari laman CNBC Indonesia, Jokowi menyatakan bahwa pemerintah sudah melakukan berbagai langkah untuk mendongkrak harga sawit, dan karet, yang dalam beberapa tahun ini mengalami kemerosotan.

Jokowi mengatakan pemerintah sudah mengirim tim ke Uni Eropa dan berbagai negara terkait isu sawit ini.

“Tapi sebetulnya ini urusan bisnis, urusan jualan mereka, juga jualan yang namanya minyak bunga matahari. Kita jualan minyak kelapa sawit, sehingga masuk ke sana sekarang mulai dihambat-hambat,” kata Jokowi.

Langkah kongrit yang telah pemerintah lakukan yakni dengan menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri China untuk meminta agar negara itu membeli minyak sawit lebih banyak dari sekarang. Harapannya nanti produksi disini dapat diserap sehingga harga bisa naik berangsur naik. Apalagi Indonesia menjadi negara nomer satu produsen minyak sawit yang memiliki luas 13 juta hektare, baik yang ada di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan sedikit di Jawa, dengan produksi 42 juta ton per tahun.

Jokowi juga menambahkan bahwa pemerintah telah menerapkan kebijakan B20. Jika kebijakan tersebut berhasil, harapannya dapat yang mengurangi impor BBM Indonesia dan menaikkan harga minyak sawit. Meski begitu Jokowi mengingatkan, dampak kebijakan tersebut tidak akan langsung dirasakan oleh masyarakat. Perlu waktu setahun untuk melihat hasilnya sejak diimplementasikan tiga bulan yang lalu.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *