fbpx

Sudah sempat menguat diangak 14.500, lagi-lagi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah di perdagangan pasar spot awal pekan ini. Dolar AS pun kembali nyaman di kisaran Rp 14.800.

Pada Selasa (12/11/2018), US$ 1 sama dengan Rp 14.835 kala pembukaan pasar. Rupiah melemah 0,17% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Nilai Tukar Rupiah Semakin Melemah Terhadap Dolar

Dilansir dari CNBC Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah sepanjang hari perdagangan awal pekan ini. Depresiasi rupiah lumayan dalam, nyaris 1%, dan menjadi mata uang terlemah di Asia.

Pada Senin (12/11/2018), US$ 1 kala penutupan pasar spot dihargai Rp 14.810. Rupiah melemah 0,89% dibandingkan posisi penutupan akhir pekan lalu.

Mata uang Tanah Air sudah melemah sejak pembukaan pasar, tetapi ‘hanya’ 0,14%. Seiring perjalanan pasar, pelemahan rupiah semakin dalam. Bahkan rupiah sempat melemah sampai 1,02% di hadapan dolar AS.

Dengan pelemahan 0,89%, rupiah kembali jadi mata uang dengan depresiasi paling dalam di Benua Kuning hari ini. Bukan awal yang bagus untuk memulai pekan.

Sebenarnya rupiah tidak sendirian, karena seluruh mata uang utama Asia juga melemah di hadapan greenback. Tidak ada yang bisa selamat gari gelombang penguatan dolar AS.

Dolar Seperti Tidak Tertandingi

Dalam seminggu terakhir, Dollar Index sudah menguat 1,2%. Sedangkan selama sebulan ke belakang penguatannya mencapai 2,32% dan sejak awal tahun sudah melonjak 5,76%.

Risiko di Eropa membuat investor kembali mencari aman dengan kembali ke pelukan dolar AS. Lagi-lagi proses perceraian Inggris dengan Uni Eropa (Brexit) menemui hambatan.

Mengutip Sunday Times, 4 orang menteri di kabinet Perdana Menteri Theresa May dikabarkan siap mundur karena mendukung Inggris untuk tetap menjadi bagian Uni Eropa. Tidak hanya itu, Brussel juga disebut menolak proposal yang diajukan London terkait kesepakatan sementara terkait wilayah kepabeanan di Pulau Irlandia.

Di Italia, drama rencana anggaran negara 2019 masih menjadi kekhawatiran pelaku pasar. Uni Eropa sudah menolak rencana anggaran tersebut dan memberi waktu kepada Italia untuk merevisi sampai Selasa waktu setempat.

Tidak hanya itu, Uni Eropa juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Negeri Pizza. Untuk 2019, Uni Eropa memperkirakan ekonomi Italia tumbuh 1,1%. Lebih rendah ketimbang proyeksi pemerintahan Perdana Menteri Giuseppe Conte di 1,2%.

Ketidakpastian soal Brexit dan fiskal Italia membuat investor menghindari Benua Biru. Dolar AS kembali jadi pilihan, sehingga memperkuat mata uang ini.

Neraca Perdagangan dan Profit Taking Bebani Rupiah

Namun ada pula faktor domestik yang sepertinya ikut membebani rupiah. Akhir pekan lalu, Bank Indonesia (BI) merilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal III-2018 mengalami defisit US$ 4,39 miliar, paling dalam sejak kuartal II-2018.

NPI terdiri dari transaksi berjalan (current account) serta transaksi modal dan finansial. Pada kuartal II-2018, keduanya tekor.

Transaksi berjalan, yang menggambarkan pasokan valas dari ekspor-impor barang dan jasa, mengalami defisit US$ 8,85 miliar atau 3,37% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ini merupakan defisit terdalam sejak kuartal II-2014.

Sementara transaksi modal dan finansial, yang mencerminkan pasokan valas dari investasi di sektor riil dan pasar keuangan, defisit US$ 4,67 miliar. Lebih dalam ketimbang kuartal sebelumnya yaitu minus US$ 3,44 miliar.

Dengan NPI yang defisit, maka artinya Indonesia sedang kekurangan valas. Ini tentu akan menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan domestik, terutama rupiah.

Selain itu, depresiasi rupiah yang cukup dalam juga disebabkan aksi pelepasan aset-aset berbasis mata uang ini. Di pasar saham, investor asing membukukan jual bersih Rp 17,66 miliar dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,65%.

Hal ini tampak dari jatuhnya IHSG minus 1,72% akhir pekan lalu. Sebelumnya, IHSG sempat menguat selama 8 hari beruntun sehingga menggoda investor untuk merealisasikan keuntungan. Aksi ambil untung ini kemudian membuat IHSG kembali jeblok dan memperparah pelemahan rupiah.

Baca Juga: Meski Masih Sementara, Rupiah Mulai Menguat Diangka 14.500

 


3 Comments

Fatih Aziz · November 14, 2018 at 12:31 PM

Wah postingannya keren!
Manteb penulisannya!

NOVIAN MF · November 22, 2018 at 4:45 PM

Cukup menghawatirkan juga sih

Ini Dia Perbedaan Trader dan Investor » Portofolio Blog Indonesia · November 13, 2018 at 3:34 PM

[…] Baca juga: Maaf, Lagi-Lagi Rupiah Melemah Terhadap Kurs Dolar AS […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *