fbpx

Krisis Argentina dan Turki, Indonesia terkena dampak hingga Nilai Rupiah menurun tajam. Udah tahu kan kalau akhir-akhir ini ekonomi Indonesia sedang terombang ambing. Udah kayak hubungan yang nggak pasti, efek krisis keuangan yang berada di Argentina dan Turki semakin mempengaruhi nilai mata uang Rupiah. Bisa dibilang, Indonesia sekarang menjadi negara yang paling terpukul karena adanya krisis ini.

Coba lihat aja sekarang kurs rupiah sudah mencapai hampir Rp 15.000. Wow, apakah ini akan menjadi krisis moneter ke dua? Hal ini mengingatkan kita terhadap krisis tahun 1998 silam. Nilai tukar rupiah jatuh ke Rp 14.750 per dollar AS, level terlemah sejak krisis keuangan Asia tahun 1998 atau dua dekade silam.

Tapi tenang, ini bukan semata-mata salahnya Indonesia atau ketidakbecusan pemerintah dalam mempertahankan nilai rupiah. Jadi ceritanya, kondisi ini bermula dari Argentina dan Turki memasuki mode krisis, pasar negara berkembang berada di bawah tekanan karena meningkatnya suku bunga Amerika Serikat (AS) dan dollar AS yang lebih kuat. Karena suku bunga Amerika meningkat, akhirnya banyak pengusaha lebih tertarik untuk investasi di negara maju dibandingkan dengan negara berkembang.

Ketika selisih imbal hasil itu menyempit karena The Federal Reserve menaikkan biaya pinjaman, pasar negara berkembang menjadi kurang menarik. Secara lebih luas, krisis mata uang yang semakin mendalam di Argentina melebihi di Turki telah mengurangi minat investor untuk aset berisiko, mendorong eksodus dana dari pasar negara berkembang ke tempat yang relatif aman di pasar negara maju.

Terus Pertanyaannya, Krisisnya Terjadi di Argentina dan Turki, Lalu Kenapa Indonesia juga Terkena Dampaknya?

Jadi gini.. Dilansir dari laman Kontan, Indonesia adalah salah satu dari beberapa pasar negara berkembang di Asia yang memiliki defisit transaksi berjalan saat ini (begitu juga India dan Filipina). Dan data terbaru menunjukkan bahwa defisit transaksi berjalan melebar ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Nah defisit ini bisa terjadi karena aliran modal asing untuk membiayai kebutuhan impor, membuat Indonesia rentan terhadap penurunan sentimen dan arus modal keluar yang tajam. Investor asing memiliki hampir 40% dari obligasi Pemerintah Indonesia, termasuk salah satu yang tertinggi di pasar negara berkembang Asia. Tambah lagi dari Pemerintah Indonesia menjalankan defisit anggaran, yang berarti perlu meminjam untuk membiayai pengeluaran atau belanja.

Dampak lain yang dirasakan adalah turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 6% di tahun 2018. Kondisi ini diperburuk dengan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun telah meningkat di tahun ini ke level tertinggi sejak akhir 2016.

Lalu, Bagaimana Upaya Bank Indonesia (BI) Untuk Meningkatkan Nilai Rupiah?

Sebenarnya BI telah menaikkan suku bunga hingga total 125 basis poin sejak Mei 2018 dan melakukan intervensi baik dalam mata uang dan pasar obligasi untuk menahan rupiah. BI telah mengatakan siap merespon volatilitas pasar yang berlebihan dan telah mempertahankan kebijakan moneter yang hawkish.

Bank sentral pun telah mengkonfirmasi intervensi lebih lanjut di pasar mata uang dan obligasi pada 31 Agustus karena rupiah jatuh ke level terendah terhadap dollar AS sejak 1998. Sementara Pemerintah Indonesia juga menyiapkan kebijakan untuk menopang pasokan dollar AS. Misal, mengumumkan berbagai langkah dari rencana untuk membatasi impor barang-barang konsumsi, percepatan penggunaan biodiesel berbasis sawit untuk memotong impor bahan bakar serta upaya untuk meningkatkan pariwisata dan ekspor.

Pemerintah juga sudah meminta Pertamina menjadi pembeli tunggal minyak mentah yang diproduksi secara lokal untuk membantu mengurangi impor minyak.

Harapannya, dengan kebijakan yang pemerintah lakukan nilai mata uang rupiah bisa kembali stabil. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun dibeberapa wawancara sudah berusaha menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia bisa berada pada posisi yang lebih kuat daripada tahun 2013, mengingat cadangan devisa yang lebih besar dan inflasi lebih rendah. Memang, dampaknya di bulan April 2018 Indonesia telah mempertimbangkan langkah-langkah untuk kembali mengambil hutang demi meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap guncangan global.

Baca Juga: Mau Cari Uang Tambahan Lewat Trading Forex, Pelajari 3 Hal Ini

Categories: Article

1 Comment

Asian Games 2018, Apakah Mempengaruhi Ekonomi Indonesia? · September 4, 2018 at 11:15 PM

[…] Baca Juga: Krisis Argentina Turki, Nilai Rupiah Turun Tajam […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *