fbpx

Kabar kurang baik dari Turki. Pada pertengah tahun 2018, Turki dihadapkan dengan krisis ekonomi yang berdampak pada jatuhnya mata uang Lyra. Menurut data dari berbagai sumber yang telah tim Portofolio kumpulkan sepanjang tahun 2018, Turki mengalami inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat sehingga membuat investor enggan memasuki Turki. Nilai tukar Lira tahun ini anjlok lebih dari 40%. Per tanggal 7 Agustus 2018 – Obligasi pemerintah bertenor 10 tahun melambung 18,8%.

Sementara hutang Turki tahun 2018 terhitung  sebesar US$ 405,66 Milyar. Suku bunga sejak Bulan Juni 17,75%. Arus Investasi Asing Berlangsung (FDI) 2016 US$ 13,34 Milyar, Tahun 2017 sejumlah US$ 10,90 Milyar dan tahun 2018 diperkirakan US$ 3,9 Milyar.

Melihat situasi seperti ini dilansir dari okezone.com, Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan bahwa kondisi perekonomian Indonesia berbeda dengan Turki yang tengah dilanda kekhawatiran krisis ekonomi akibat gejolak pasar keuangan. Indonesia punya hal-hal positif yang dilihat dalam sepekan terakhir.

“Pertumbuhan kita kuat, inflasi rendah, dan defisit APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) diperkirakan lebih rendah,” kata Sri Mulyani di Tangerang, Banten.

Namun krisis Turki ternyata berpengaruh kepada penurunan saham di Indonesia. Namun Indonesia tidak sendiri, ketakutan penularan krisis menggema di pasar keuangan terlihat dari setiap indeks saham Asia. Dilansir dari CNN Indonesia, rata-rata saham Asia yang terjebak di zona merah pada hari ini. Namun, beberapa analis melihat gejolak saat ini sebagai peluang untuk mengambil aset murah.

“Asia seharusnya tidak melihat efek penularan secara fundamental, karena krisis yang sedang berlangsung di Turki tidak memiliki eksposur yang berarti terhadap negara-negara itu,” kata analis di DBS Singapura dalam sebuah catatan.

www.portofolio.co.id

Categories: Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *