fbpx

Dalam rangka pertemuan bilateral antara Korea Selatan dan Amerika, Kim Jong Un telah menginjakkan kaki di Singapura sejak hari Minggu (10/6) kemarin.

Kedatangan Kim Jong Un bukan tanpa alasan. Di negara Singapura inilah akan terjadi sejarah pertemuan antara pemimpin Korea Utara dan Amerika.

Dalam beberapa dekade kebelakangan ini, tampak hubungan Korea Utara dan Amerika kurang baik. Hal tersebut terkait kebijakan Korea Utara akan nuklir yang sedang dikembangkan.

Kedua pemimpin diperkirakan akan membahas denuklirisasi Korut selama pertemuan mereka. Pertemuan ini terjadi beberapa minggu setelah Jong-un mengunjungi desa gencatan senjata Panmunjom yang terletak di perbatasan Utara-Selatan untuk bertemu dengan Presiden Korsel, Moon Jae-in.

Usai pertemuan tersebut, kedua negara menyetujui 4 perjanjian yang ditandantangani Kim Jong Un dan Donald Trump. Dilansir dari liputan6.com, isi perjanjian tersebut adalah:

1. AS dan Korea Utara berkomitmen untuk membangun hubungan AS – DPRK yang baru, yang selaras dengan keinginan masyarakat kedua negara demi perdamaian dan kesejahteraan

2. Kedua negara akan berusaha bersama-sama untuk membangun rezim yang lestari, stabil, dan damai di Semenanjung Korea.

3. Mengafirmasi kembali Deklarasi Panmunjom 27 April 2018, di mana Korea Utara berkomitmen berupaya menuju denuklirisasi secara menyeluruh di Semenanjung Korea.”

4. AS dan Korea Utara berkomitmen untuk memberikan pemulihan terhadap tawanan perang yang tersisa, termasuk penyegeraan repatriasi bagi mereka yang telah teridentifikasi.

Memilih Singapura Sebagai Negara Untuk Pertemuan

Pemilihan Negara Singapura sebagai tempat pertemuan bersejarah itu tidak langsung saja dipilih. Awalnya pertemuan ingin dilaksanakan di Pyongyang. Namun Kim Jong Un kemudian dibujuk supaya melakukan pertemuan di Mongolia. Seperti diketahui, Mongolia adalah negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan AS dan Korut serta dapat diakses dengan kereta api sehingga Jong-un dapat melakukan perjalanan ke sana dengan kereta antipeluru.

Tidak hanya Mongolia, ternyata negara-negara Eropa macam Swedia dan Swiss juga menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah, tetapi dikesampingkan karena jarak dari Pyongyang. Alhasil dipilihlah Singapura sebagai negara yang menjadi tempat pertemuan.

Baca Juga: Tips dan Trik Menjadi Trader Sukses

Tidak Berpengaruh Pada Ekonomi Global

chicagotonight.wttw.com

Namun jika ditinjau dari pengaruh ekonomi, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution tidak berdampak signifikan terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia. Hal ini karena antara kedua negara hanya menitik beratkan pembahasan mengenai perlucutan senjata nuklir.

Meski tidak berpengaruh secara signifan terhadap ekonomi global, Darmin mengaku pemerintah tetap memperhatikan pertemuan kedua negara tersebut supaya bisa mengambil langkah lebih lanjut setelah pertemuan Trump dan Kim Jong Un dalam bidang ekonomi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *